KEAGUNGAN SHOLAT DALAM ISLAM

بسم الله الرحمن الرحيم

Kewajiban sholat lima waktu adalah perkara yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin, namun sangat disayangkan realitanya masih banyak kaum muslimin yang melalaikan kewajiban ini, bahkan meninggalkannya sama sekali.

Tidaklah hal ini terjadi kecuali karena telah semakin jauhnya ummat Islam dari tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bimbingan para ulama. Padahal seluruh ulama telah sepakat akan besarnya dosa meninggalkan sholat dan bahaya yang akan menimpa pelakunya di dunia dan akhirat.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “(Ulama) kaum muslimin tidak berbeda pendapat bahwa meninggalkan sholat wajib dengan sengaja termasuk dosa besar. Dosanya di sisi Allah lebih besar dari dosa membunuh jiwa, dosa mengambil harta orang (tanpa alasan yang benar), juga lebih besar dari dosa zina, pencurian dan minum khamar. Meninggalkan sholat juga mengundang hukuman dan kemarahan Allah serta kehinaan di dunia dan akhirat.” (Kitabus Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 29)

Sesungguhnya fenomena kaum yang melalaikan sholat ini telah diperingatkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Makna menyia-nyiakan sholat dalam ayat ini bukanlah meninggalkan sholat sama sekali, sebab meninggalkan sholat lebih besar bahayanya, yaitu kekafiran (sebagaimana akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala). Akan tetapi makna menyia-nyiakan shalat -sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma- hanyalah sekedar menyia-nyiakan waktunya (lihat Syarhul Kabair lidz-Dzahabi, hal. 27).

Juga dalam firman-Nya:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

Demikian pula makna melalaikan sholat dalam ayat ini mencakup orang yang meninggalkan sholat secara menyeluruh maupun melalaikan pelaksanaannya dari yang semestinya.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “(Termasuk dalam kategori melalaikan sholat) apakah melalaikannya dari awal waktunya, yaitu mereka selalu mengakhirkan waktu sholat atau kebanyakan waktunya. Ataukah melalaikannya dari pelaksanaannya dengan benar, yaitu dengan memenuhi rukun-rukun sholat dan syarat-syarat sholat sebagaimana yang diperintahkan (oleh Allah Ta’ala), ataukah melalaikannya dari khusyu’ dalam sholat dan mentadabburi makna-makna sholat. Sedang teks ayat ini mencakup semua bentuk pelalaian tersebut. Dan barangsiapa malakukan satu bentuk pelalaian tersebut maka dia mendapatkan bagian (ancaman) dari ayat ini. Dan barangsiapa yang melakukan semua bentuknya maka sempurnalah bagian ancaman terhadapnya dan lengkaplah pula sifat munafik ‘amaly dalam dirinya, sebagaimana dalam Ash-Shahihain bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

تلك صلاة المنافق، تلك صلاة المنافق، تلك صلاة المنافق، يجلس يَرْقُب الشمس، حتى إذا كانت بين قرني الشيطان قام فنقر أربعا لا يذكر الله فيها إلا قليلا

“Itulah sholatnya munafik, itulah sholatnya munafik, itulah sholatnya munafik, yaitu dia (hanya) duduk memperhatikan matahari, sampai ketika matahari berada pada kedua tanduk setan (hampir terbenam) lalu dia bangkit dan mematuk sebanyak empat (raka’at) tanpa mengingat Allah dalam sholatnya itu kecuali sedikit’” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/493)

Oleh karenanya, wajib atas setiap muslim untuk menasihati keluarga dan masyarakatnya agar lebih memperhatikan perkara sholat lima waktu ini.

Kedudukan Sholat

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah menerangkan, “Sesungguhnya sholat merupakan perkara yang agung dalam Islam dan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala, di sisi Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yaitu merupakan rukun kedua dari rukun Islam setelah dua kalimat syahadat. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

بُني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصوم رمضان وحج البيت لمن استطاع إليه سبيلا

“Islam dibangun di atas lima rukun, bersaksi bahwasannya tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan sholat; menunaikan zakat; berpuasa pada bulan ramadhan; berhaji ke baitullah bagi yang mampu’.” (Makanatus Sholah fil Islam wa Atsaruhat Thoyibah, hal. 1)

Karena pentingnya sholat, sampai-sampai tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan sholat, kecuali wanita yang haid atau nifas dan orang gila atau mati. Sholat lima waktu tetap wajib ditegakkan dalam keadaan bagaimana pun juga, baik dalam keadaan perang maupun aman, ketika safar maupun muqim, saat sibuk maupun lapang, ketika kaya maupun miskin, saat sehat maupun sakit, separah apapun sakitnya, ada air maupun tidak, apakah mampu menggunakan air atau tidak, serta tidak pula dengan alasan lupa atau tertidur.

Karena Allah yang Maha Penyayang dalam syari’at-Nya yang mulia ini telah memberikan keringanan-keringanan dalam pelaksanaan sholat, seperti bolehnya menjama’ sholat (yakni melaksanakan dua shalat dalam satu waktu karena sebab tertentu), bolehnya menqoshor sholat ketika safar (yakni meringkas sholat yang tadinya empat raka’at menjadi dua raka’at), bolehnya bertayamum sebagai ganti wudhu’ dan mandi wajib ketika tidak ada air atau tidak mampu menggunakan air, bolehnya sholat sambil duduk atau berbaring bagi yang tidak mampu berdiri atau karena sakit, serta bolehnya mengqodho’ sholat yang terlewat waktunya karena tertidur atau lupa (yaitu tetap wajib melaksanakan sholat tersebut meski telah keluar dari waktunya jika karena lupa atau tertidur).

Demikianlah, betapa pentingnya sholat sehingga Allah Ta’ala menjelaskan diantara sifat orang-orang yang beriman penghuni surga adalah:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

“Dan orang-orang yang menjaga sholatnya.” (Al-Mu’minun: 9)

الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

“Yang mereka itu senantiasa mengerjakan sholatnya.” (Al-Ma’arij: 23)

Sebaliknya, diantara sebab adzab penghuni neraka karena meninggalkan sholat:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

“Apakah yang menyebabkan kalian masuk ke dalam neraka saqor, mereka menjawab, kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat.” (Al-Mudatsir: 42-43)

Keutamaan Sholat

Diantara keutamaan sholat yang akan diraih seorang hamba apabila dia menjaga sholatnya dan menjauhi dosa-dosa besar adalah terhapusnya kesalahan-kesalahan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أرأيتم لو أن نهراً بباب أحدكم يغتسل منه كل يوم خمس مراتٍ هل يبقى من درنه شيءٌ قالوا لا يبقى من درنه شيءٌ قال فذلك مثل الصلوات الخمس يمحو الله بهن الخطايا

“Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian ada sungai yang dia mandi darinya setiap hari lima kali, apakah masih tersisa kotorannya walau sedikit?” Para Sahabat menjawab, “Tidak tersisa kotorannya sedikitpun’” Beliau bersabda, “Demikianlah sholat lima waktu, dengannya Allah Ta’ala menghapus kesalahan-kesalahan”.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairoh radhiyallahu’anhu)

Bahkan sholat adalah amalan pertama yang akan diadili pada hari kiamat dan menjadi penentu bagi baiknya amalan-amalan yang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله الصلاة فإن صلحت فقد أفلح و أنجح و إن فسدت فقد خاب و خسر و إن انتقص من فريضة قال الرب انظروا هل لعبدي من تطوع ؟ فيكمل بها ما انتقص من الفريضة ثم يكون سائر عمله على ذلك

“Sesungguhnya amalan pertama seorang hamba yang akan diadili pada hari kiamat adalah sholat, jika baik sholatnya maka dia telah menang dan selamat, namun jika rusak sholatnya maka dia telah celaka dan merugi. Dan jika kurang (sholat) wajibnya, Allah berfirman, ‘lihatlah apakah hamba-Ku memiliki (sholat) sunnah?’ Maka dengan (sholat) sunnah tersebut disempurnakanlah (sholat) wajibnya, kemudian semua amalan dihisab seperti itu.” (HR. At-Tirmidzi, no. 413, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’, no. 2020)

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

“Amalan pertama seorang hamba yang akan dihisab pada hari kiamat adalah sholat, jika baik sholatnya maka baik pula seluruh amalannya, namun jika rusak sholatnya maka rusak pula seluruh amalannya.” (HR. Thabrani dalam Al-Aushat, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihut Targhib, no. 376)

Hukum Meninggalkan Sholat

Orang yang meninggalkan sholat ada dua bentuk:

Pertama: Orang yang meninggalkan sholat dan sekaligus mengingkari, membenci atau menentang kewajiban sholat. Bentuk yang pertama ini telah sepakat para Ulama akan kafirnya orang tersebut, bahkan meskipun dia melaksanakan sholat secara lahirnya, namun jika batinnya mengingkari, membenci atau menentang kewajiban sholat, orang tersebut tetaplah kafir, kecuali orang yang baru masuk Islam yang belum mengerti dengan kewajiban sholat.

Kedua: Orang yang meninggalkan sholat karena lalai atau malas. Bentuk yang kedua ini terdapat perbedaan pendapat ulama akan kekafirannya (lihat Nailul Authar, 1/369).

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam risalah Hukmu Tarikis Sholah:

Pendapat Al-Imam Ahmad rahimahullah tentang orang yang meninggalkan sholat (dengan segala bentuknya) adalah kafir dan keluar dari agama Islam (murtad), hukumannya adalah dibunuh (karena telah murtad) jika tidak mau bertaubat dan melaksanakan sholat kembali.

Adapun pendapat Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahumullah tentang orang yang meninggalkan sholat adalah fasik (pelaku dosa besar) dan tidak sampai kafir.

Kemudian mereka berbeda pendapat tentang hukumannya; pendapat Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i bahwa hukumannya adalah dibunuh sebagai had (bukan karena murtad, tapi hanya seperti hukumannya pezina yang pernah menikah). Sedangkan pendapat Al-Imam Abu Hanifah hukumannya terserah kepada hakim dan tidak sampai dibunuh.

Lalu Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menguatkan pendapat Al-Imam Ahmad, yaitu kafirnya orang yang meninggalkan sholat dengan segala bentuknya, berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pendapat para sahabat radhiyallahu’anhum. Diantaranya firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (At-Taubah: 11)

Sisi pendalilannya adalah, dalam ayat ini Allah Ta’ala menjadikan sholat sebagai syarat ukhuwah dalam agama, jika seorang meninggalkan sholat maka dia bukan saudara seagama karena dia telah kafir.

Adapun dalil dari as-Sunnah, sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

إن بين الرجل وبين الشرك، والكفر، ترك الصلاة

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhuma)

Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمن تركها فقد كفر

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2621, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no. 574)

Seorang tabi’in yang mulia, Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata:

كان أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم لا يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة

“Dahulu para Sahabat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidak melihat suatu amalan yang apabila ditinggalkan merupakan kekafiran, kecuali sholat.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2622, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihut Targhib, no. 565)

Hukum Sholat Jama’ah

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa para ulama telah sepakat akan disyari’atkannya sholat jama’ah, namun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya menjadi empat pendapat:

Pertama: Fardhu ‘ain.
Kedua: Fadhu kifayah.
Ketiga: Sunnah mu’akkadah.
Keempat: Syarat sahnya sholat.

Kemudian beliau menguatkan bahwa yang benar adalah pendapat pertama, yaitu hukum sholat jama’ah (bagi laki-laki) adalah fardhu ‘ain, barangsiapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka dia berdosa namun sholatnya tetap sah. Setelah itu beliau menjelaskan kelemahan pendapat yang lainnya (lihat Asy-Syarhul Mumti’, 4/59).

Adapun dalil-dalil wajibnya sholat jama’ah dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan amalan para sahabat radhiyallahu’anhum .

Dalil dari al-Qur’an, diantaranya firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) telah sujud (telah selesai sholat), maka hendaklah datang golongan yang kedua yang belum sholat, lalu sholatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (An-Nisa’: 102)

Ayat ini menjelaskan tentang tata cara sholat ketika perang, yaitu sholat khauf (dalam keadaan takut). Allah Ta’ala memerintahkan sholat berjama’ah meski dalam keadaan khauf, sedang ‘perintah’ hukum asalnya adalah ‘wajib’ dan ia tetap pada hukum asal tersebut selama tidak ada dalil yang memalingkan dari hukum asalnya.

Dalil dari As-Sunnah, diantaranya:

عن ابن أم مكتوم – رضي الله عنه- أنه سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إني رجل ضرير البصر، شاسع الدار، ولي قائد لا يلائمني، فهل لي رخصة أن أصلي في بيتي؟ قال: هل تسمع النداء؟ قال: نعم، قال: لا أجد لك رخصة

Dari Abdullah bin Ummi Maktum radiyallahu’anhu bahwasannya beliau bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku seorang lelaki buta, rumahku jauh (dari masjid) dan penuntunku tidak selalu menemaniku, apakah ada keringanan bagiku untuk sholat di rumahku?” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah kamu mendengar adzan”, dia menjawab “Ya”.  Beliau bersabda, “Saya tidak mendapati keringanan untukmu.” (HR. Abu Daud, no. 552, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohih Abi Daud, no. 561)

Dari atsar sahabat:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ

Dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’anhu beliau berkata, “Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah besok (hari kiamat) dalam keadaan muslim maka hendaklah dia menjaga sholat lima waktu dengan melaksanakannya di tempat dikumandangkan adzan, karena sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada Nabi kalian shallallahu’alaihi wa sallam jalan-jalan hidayah, sedang sholat lima waktu berjama’ah adalah termasuk jalan-jalan hidayah tersebut. Dan seandainya kalian sholat di rumah-rumah kalian -sebagaimana sholatnya orang yang meninggalkan ini di rumahnya-, maka sungguh kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi kalian shallallahu’alaihi wa sallam, sedang jika kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian shallallahu’alaihi wa sallam maka kalian pasti tersesat. Dan tidaklah ada seorang bersuci dengan baik, kemudian dia bermaksud ke masjid kecuali Allah menuliskan baginya pada setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkat satu derajatnya dan menghapus satu kesalahannya (dengan setiap satu langkahnya). Dan sungguh aku melihat kami (para sahabat), tidaklah ada yang meninggalkan sholat jama’ah kecuali (kami menganggapnya) seorang munafik yang jelas kemunafikannya, bahkan dahulu seorang (sahabat yang sakit) didatangkan (ke masjid) dengan dibopong oleh dua orang sampai diberdirikan ke dalam shaf.” (HR. Muslim, no. 1520)

Adapun bagi wanita maka hukumnya boleh sholat jama’ah di masjid (tentu dengan syarat memperhatikan adab-adab Islami), namun sholatnya wanita di rumahnya itu lebih baik (lihat Asy-Syarhul Mumti’, 4/60).

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

لا تمنعوا نساءكم المساجد و بيوتهن خير لهن

“Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian mendatangi masjid-masjid (untuk sholat), dan (sholatnya mereka) di rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Al-Hakim, no. 755, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’, no. 7458)

Demikianlah penjelasan ringkas seputar pentingnya sholat dalam kehidupan seorang muslim, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita  kemampuan untuk selalu mengamalkannya dalam keadaan bagaimanapun juga.

Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Muwaffiq.

Tambahan Faidah Dari Al-Akh Abu Zuhriy

Sekedar menambahkan ustadz…

- ‘Umar radhiallahu anhu berkata:

‎لاَ حَظَّ فِي الإِسْلامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian (sedikit pun) dalam Islam bagi seseorang yang meninggalkan shalat.” (Al Mughni 3/355)

- Shåhabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata:

‎مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak shalat maka dia kafir.” (Al Mughni 3/355)

- Shåhabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhumaa berkata:

‎مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ فَلاَ دِيْنَ لَهُ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka tidak ada agama baginya.” (Shahih At Targhib no. 574)

- Abu Darda’ radhialallahu anhu berkata:

‎لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَلاَةَ لَهُ وَلاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ

“Tidak ada keimanan bagi yang tidak shalat, dan tidak ada (sah) shalat bagi yang tidak berwudhu’.” (Shahih At Targhib no. 575)

Dituturkan oleh Ibnu Hazm bahwa pendapat tersebut telah dianut oleh Umar, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, dan para sahabat lainnya, dan (bahkan) ia (Ibnu Hazm) berkata :

“Dan sepengetahuan kami tidak ada seorang pun diantara sahabat Nabi yang menyalahi pendapat mereka ini ”

Keterangan Ibnu Hazm ini telah dinukil oleh Al Mundziri dalam kitabnya At Targhib Wat Tarhib, dan ada tambahan lagi dari para sahabat yaitu Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Abu Darda’ rodhiallohu ‘anhu, ia (Ibnu Hazm) berkata lebih lanjut :

“Dan diantara para ulama yang bukan dari sahabat adalah Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abdullah bin Al Mubarak, An Nakhoi, Al Hakam bin Utbaibah, Ayub As Sikhtiyani, Abu Daud At Thayalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, dan lain lainnya.”

Disebutkan pula oleh Ibnu Al Qoyyim dalam “Kitab Ash Shalat ” bahwa pendapat ini merupakan salah satu dari dua pendapat yang ada dalam madzhab Syafi’i, Ath-Thahaqi pun menukilkan demikian dari Imam Syafii sendiri.

(Dinukil dari حكم تارك الصلاة, Edisi Indonesia “Hukum orang yang meninggalkan sholat”. Penulis Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin rahimahullah)

Mungkin perlu ditambahkan lagi sedikit ustadz, apakah “meninggalkan shalat” yang menyebabkan kekufuran disini ustadz, apakah “sekali shalat”, “dua waktu shalat (yang dapat dijamak)” atau “meninggalkannya secara mutlak”..

Jazaakallåhu khåyrån..

Jawaban Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Wa jazaakumullahu khairon atas tambahan faidahnya yang sangat bermanfaat. Adapun masalah kapan seorang dikatakan “meninggalkan sholat” yang menyebabkan kekafiran, maka ada dua pendapat ulama:

Pertama: Meninggalkan satu sholat saja sudah kafir. Ini pendapat Lajnah Daimah yang diketuai oleh Asy-Syaikh Bin Bazrahimahullah, berikut nashnya;

س : من المعلوم أن تارك الصلاة كافر خارج من الملة ولكن ما هو ضابط الترك ، أي هل يكفر إذا ترك كل الصلوات أم يكفر إذا ترك صلاة واحدة ؟

ج : الأحاديث الدالة على كفر تارك الصلاة كقوله صلى الله عليه وسلم : « من ترك الصلاة فقد كفر » ، وقوله صلى الله عليه وسلم : « بين الرجل وبين الكفر والشرك ترك الصلاة » تدل على أن ترك بعض الصلوات كترك جميعها إلا أن ترك جميع الصلوات أعظم إثما .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Pertanyaan: Sudah maklum bahwa orang yang meninggalkan sholat itu kafir, akan tetapi apa yang menjadi dhabit (ukuran, batasan) dalam hal ini, apakah seorang itu kafir jika meninggalkan semua sholat atau satu sholat saja?

Jawab: Hadits-hadits yang menunjukkan tentang kafirnya orang yang meninggalkan sholat, seperti sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang meninggalkan sholat maka dia kafir”. Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “(Batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat”. Menunjukkan bahwa meninggalkan sebagian shalat saja sama dengan meninggalkan seluruhnya. Hanya saja meninggalkan seluruh sholat dosa (kekafiran)nya lebih besar. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 5/42, juga fatwa sebelumnya 5/41 lebih tegas lagi bahwa meninggalkan satu shalat saja menyebabkan kekafiran)

Kedua: Meninggalkan sholat yang menyebabkan kafir jika seorang meninggalkan seluruh sholat. Ini pendapat Asy-Syaikh Al-’Utsaiminrahimahullah dalam Fatawa beliau, berikut kutipannya:

من ترك صلاة عمداً بغير عذر فإنه لا يخرج من الإسلام إلا بترك الصلاة تركاً كلياً ، أما في صلاة واحدة فلا يكفر على القول الراجح إلا من تركها تركاً مطلقاً ، لقوله صلى الله عليه وسلم : ” بين الرجل وبين الكفر والشرك ترك الصلاة ” .ولم يقل ترك صلاة

“Barangsiapa yang meninggalkan satu sholat tanpa udzur, tidaklah dia keluar dari Islam kecuali jika meninggalkan sholat secara menyeluruh. Adapun meninggalkan satu sholat maka dia tidak kafir berdasarkan pendapat yang kuat, kecuali jika dia meninggalkan sholat secara menyeluruh. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “(Batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat”. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah mengatakan, “Meninggalkan satu sholat” (tapi perkataannya mutlak, “Meninggalkan sholat”). (Lihat Majmu Fatawa wa Rosaail Ibni ‘Utsaimin, 12/77)

Ini dua pendapat ulama, yang rojih insya Allah adalah pendapat kedua. Terlihat dari sisi pendalilan Asy-Syaikh Al’Utsaiminrahimahullah yang begitu kuat dan jelas. Ini juga pendapat Syaikul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullah dan murid beliau Al-Imam Ibnul Qoyyimrahimahullah.

Wallahu A’la wa A’lam.

Sumber : http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/02/keagungan-sholat-dalam-islam/ dan dikutip ulang dari: http://abangdani.wordpress.com/

ALLAH HANYA MERIDHOI ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG BENAR

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam.

Allah ta’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

“Muhammad itu bukanlah seorang ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)

Allah ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima darinya dan di akhirat nanti dia akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Allah ta’ala mewajibkan kepada seluruh umat manusia untuk beragama demi Allah dengan memeluk agama ini. Allah berfirman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: Wahai umat manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah bagi kalian semua, Dialah Dzat yang memiliki kekuasaan langit dan bumi, tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, Dia lah yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya seorang Nabi yang ummi (buta huruf) yang telah beriman kepada Allah serta kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia supaya kalian mendapatkan hidayah.” (QS. Al A’raaf: 158)

Di dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda yang artinya, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangannya. Tidaklah ada seorang manusia dari umat ini yang mendengar kenabianku, baik yang beragama Yahudi maupun Nasrani lantas dia meninggal dalam keadaan tidak mau beriman dengan ajaran yang aku bawa melainkan dia pasti termasuk salah seorang penghuni neraka.”

Hakikat beriman kepada Nabi adalah dengan cara membenarkan apa yang beliau bawa dengan disertai sikap menerima dan patuh, bukan sekedar pembenaran saja. Oleh sebab itulah maka Abu Thalib tidak bisa dianggap sebagai orang yang beriman terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun dia membenarkan ajaran yang beliau bawa, bahkan dia berani bersaksi bahwasanya Islam adalah agama yang terbaik.

Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa, di setiap tempat dan di masyarakat manapun. Allah ta’ala berfirman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab dengan benar sebagai pembenar kitab-kitab yang terdahulu serta batu ujian atasnya.” (QS. Al Maa’idah: 48)

Maksud dari pernyataan Islam itu cocok diterapkan di setiap masa, tempat dan masyarakat adalah dengan berpegang teguh dengannya tidak akan pernah bertentangan dengan kebaikan umat tersebut di masa kapan pun dan di tempat manapun. Bahkan dengan Islamlah keadaan umat itu akan menjadi baik. Akan tetapi bukanlah yang dimaksud dengan pernyataan Islam itu cocok bagi setiap masa, tempat dan masyarakat adalah Islam tunduk kepada kemauan setiap masa, tempat dan masyarakat, sebagaimana yang diinginkan oleh sebagian orang.

Agama Islam adalah agama yang benar. Sebuah agama yang telah mendapatkan jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah ta’ala bagi siapa saja yang berpegang teguh dengannya dengan sebenar-benarnya. Allah ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dia lah Zat yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Petunjuk dan Agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama-agama yang ada, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS. Ash Shaff: 9)

Allah ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah benar-benar telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman serta beramal salih diantara kalian untuk menjadikan mereka berkuasa di atas muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah dijadikan berkuasa di atasnya. Dan Allah pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, sebuah agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka peluk. Dan Allah pasti akan menggantikan rasa takut yang sebelumnya menghinggapi mereka dengan rasa tenteram, mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Agama Islam adalah ajaran yang mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam adalah ajaran yang sempurna, baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang diajarkannya:

  1. Islam memerintahkan untuk menauhidkan Allah ta’ala dan melarang kesyirikan.
  2. Islam memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang dusta.
  3. Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya.
  4. Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat.
  5. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji.
  6. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka.
  7. Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim.
  8. Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka.

Secara umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam amal salih dan melarang segala amal yang jelek. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil, ihsan dan memberikan nafkah kepada sanak kerabat. Dan Allah melarang semua bentuk perbuatan keji dan mungkar, serta tindakan melanggar batas. Allah mengingatkan kalian agar kalian mau mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)

***

Diterjemahkan dari Syarh Ushul Iman, hal. 5-8, Penerbit Darul Qasim
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
Diterjemahkan oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id dengan judul asli “Agama Islam “

KENAPA HARUS MENIKAH ?

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
“Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” (Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda,) “Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Beliau menjawab dengan bersabda, “Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim

Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Artikel: http://www.perpustakaan-islam.com/

SERBA-SERBI MAKANAN BAYI USIA 1TH KE ATAS

VARIASI MENU UNTUK SI KECIL USIA 1 TAHUN KE ATAS

Beberapa variasi menu yang diformulasikan khusus untuk Anak berusia 1 tahun ke atas.

  • Ganti sumber karbohidrat dengan berbagai pilihan, misalnya beras, beras merah, ubi, kentang, havermut, roti.
  • Jangan memberinya bayam dan wortel saja. Perkenalkan dengan berbagai sayuran, misalnya jagung, brokoli, bit, bayam merah.
  • Bila si kecil tidak suka makanan baru yang Anda perkenalkan, cobalah beberapa kali. Jika ia tetap menolaknya, tak perlu memaksanya agar tidak menimbulkan trauma terhadap makanan itu.
  • Karena makanan si kecil tak boleh diberi bumbu yang menyengat, berikan selembar daun salam dalam buburnya agar lebih gurih.

Hati-hati!
Beberapa makanan di bawah ini bisa menimbulkan alergi pada sebagian bayi di bawah usia satu tahun:
telur, tomat, ikan jenis tertentu (tongkol, salmon), kacang (termasuk selai mentega kacang), bumbu-bumbu yang menyengat (lada, kunyit, jahe, dan sebagainya), strawberry, coklat dan kerang.

Sampai usia satu tahun, sebaiknya hindari memberi bayi Anda:
Telur setengah matang, bawang merah, ketimun dan kol (karena sulit dicerna), garam berlebihan, gula berlebihan, lobak dan kangkung (membuat bayi sering bersendawa), dan makanan mengandung pengawet.

Untuk Diperhatikan:

  • Jika di keluarga ada riwayat alergi, ekstra hati-hati dalam memberi jenis makanan tersebut.
  • Jika kulit anak menunjukkan reaksi alergi, misalnya gatal atau kemerahan setelah makan sesuatu, cobalah lagi beberapa kali di hari lain. Jika gejala alergi hilang, Anda bisa meneruskannya. Tetapi jika alergi tetap terjadi, berarti Anda harus menghindarinya.
  • Untuk mengetahui dengan pasti reaksi alergi pada bayi Anda, jangan mencampur buah atau makanan yang dikhawatirkan menimbulkan alergi. Segera catat jika penyebab alergi sudah diketahui dengan pasti.
  • Makanan yang mengandung gluten dapat menimbulkan gangguan saluran pencernaan pada sebagian bayi, seperti produk biji-bijian, misalnya, makanan mengandung gandum/oats.

Jika si kecil telah berusia 1 tahun, sebaiknya pemasukan garam dan gula seminim mungkin, bahkan lebih baik sebaiknya ditunda sampai mereka berusia 2 tahun.

Saat anak berusia 1 tahun ke atas, sudah diperbolehkan mengkonsumsi makanan laut seperti; udang, kerang, cumi2, dll. Tetapi perlu diingat, apabila ada sejarah dalam keluarga kita alergi seafood, sebaiknya pemberian makanan seafood ke si kecil ditunda dulu.

Sumber: http://keluargasehat.wordpress.com/

Baca juga tulisan lain di: http://www.anneahira.com/menu-makanan-bayi-1-tahun.htm

Makanan Yang Tidak Boleh dan Boleh Dimakan Si Kecil

Jika Ibu dan Bapak masih bingung memilih makanan yang pas untuk sang buah hati, simaklah ulasan ahlinya di bawah ini. Dijamin, Bapak dan Ibu enggak bakal bingung lagi.

Ada yang menganjurkan, bayi harus diberi pisang agar tak kelaparan. Bahkan, ada pula yang menganjurkan agar bayi diberi nasi yang sudah diulek halus. Soalnya, bayi, kan, cuma minum ASI. Jadi, dikhawatirkan si bayi akan kelaparan.

Tentu saja, anjuran tersebut tak boleh diikuti. Pasalnya, sampai usia sekitar 3-4 bulan, makanan bayi memang cuma ASI. Lagi pula, tutur dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO,  “bila diberikan makanan lain, usus dan ginjal bayi bisa terganggu karena fungsi organ tubuh bayi belum sempurna.”

Jadi, bisa membahayakan bayi. Jangankan makanan tambahan, susu formula saja sebenarnya juga tak dianjurkan. Pemberian susu formula lebih dianjurkan setelah bayi berusia 5-6 bulan. Soalnya, di usia tersebut, berat badan bayi sekitar 6,5 kg sehingga kebutuhan susunya bertambah. “Disamping, pada saat itu produksi ASI juga sudah mulai berkurang, sehingga diperlukanlah tambahan susu formula,” terang Dadang.

ASI YANG TERBAIK

Jadi, Bu-Pak, makanan yang terbaik untuk bayi baru lahir adalah ASI, karena ASI sudah mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh-kembangnya. “Dalam ASI juga terdapat zat anti infeksi yang berasal dari ibu, sehingga bayi tak mudah terserang penyakit,” tutur Dadang. Disamping tentunya ASI lebih praktis, murah, dan bersih. Lagi pula, ketika bayi menyusu ASI, ibu pasti akan mendekap bayinya sehingga memberikan rasa aman dan perlindungan pada bayi.

Tak hanya itu, dalam ASI juga terkandung whey protein dan kasein. Kendati dalam susu formula juga terkandung kedua jenis protein ini, namun dalam ASI, whey proteinnya lebih tinggi dari kasein, sekitar 80:20. “Whey protein yang tinggi inilah yang membuat ASI jadi mudah dicerna dan diserap oleh bayi,” ujar Dadang. Sedangkan susu formula yang dari hewan, perbandingan whey protein dan kaseinnya adalah 20:80. Jadi, kaseinnya yang lebih tinggi.

“Inilah yang membuat susu formula dari hewan jadi gampang menggumpal sehingga membuat bayi menjadi sulit mencerna dan menyerapnya,” lanjut Dadang. Akibatnya, bayi yang diberi susu formula bisa menjadi kekurangan makanan karena zat-zat gizi yang dibutuhkannya tak diserap. Selain itu, di dalam whey protein terdapat suatu zat yang disebut laktalbumin (suatu protein yang ada dalam whey protein). Laktalbumin ini bisa diubah menjadi sistein (sejenis asam amino) yang akan dikonversi lagi menjadi taurin.

“Taurin inilah yang bagus karena berfungsi untuk perkembangan sel otak. Dengan demikian, baik untuk kecerdasan otak bayi,” tambah Dadang. Tak demikian halnya dengan susu formula, laktalbuminnya kurang. Dengan demikian, taurinnya pun sangat rendah. Nah, berdasarkan alasan-alasan tersebut, makanya para ahli selalu menganjurkan agar bayi diberikan ASI eksklusif; minimal selama 4 bulan, tapi belakangan malah dianjurkan selama 6 bulan.

HARUS BANYAK CAIRAN

Pada prinsipnya, setelah bayi berusia 4 bulan ke atas baru boleh diberi makanan tambahan untuk melatih reflek mengunyah dan menelan. Namun makanan tambahannya pun harus dalam bentuk lumat. “Bubur instan yang banyak dijual di pasaran bisa diberikan pada bayi,” kata Dadang, Tapi jangan lupa, lo, Bu-Pak, bayi masih tetap membutuhkan banyak cairan. Jadi, sekalipun sudah diberi makanan tambahan, bayi tetap harus diberi cairan yang banyak.

“Kebutuhan bayi akan air per kg berat badannya lebih banyak ketimbang orang dewasa,” terang Dadang. Bila dibandingkan antara susu formula dengan makanan tambahan, misalnya, bubur susu, tentu susu formula mengandung lebih banyak air. Jadi, bila bayi diberikan bubur susu, cairan yang masuk ke tubuhnya akan berkurang. Jika Ibu sampai tak memperhatikan hal ini, bisa-bisa bayi akan mengalami kekurangan cairan; karena sering terjadi, setelah diberikan bubur susu, minuman yang diberikan tak banyak.

BERAGAM DAN BERVARIASI

Menurut Dadang, bayi boleh saja diberi bubur instan setiap hari. Toh, kandungannya tak berbeda jauh dengan susu formula. “Produk ini mengandung energi, protein, dan lemak, bahkan suplemen yang tinggi,” tuturnya. Jadi, meskipun bubur instan bukan makanan alami, namun tak berdampak buruk pada kesehatan bayi. Paling si bayi hanya merasa bosan karena setiap hari cuma diberi makanan yang itu-itu saja (bubur instan).

Nah, untuk mengatasi rasa bosan, Dadang menyarankan agar Ibu-Bapak memberikan makanan yang beragam dan bervariasi. Dengan kata lain, makanannya jangan yang itu-itu saja, tapi diganti-ganti. Misalnya, hari ini diberi bubur instan, maka esoknya berilah biskuit bayi yang dilumatkan dengan air. Dadang mengingatkan, kondisi bayi pada usia hingga satu tahun seperti CPU komputer.

“Jadi, bayi seperti diinstal. Misalnya, bayi diberi bubur instan. Rasa bubur instan itu, kan, akan terasa pada lidah bayi. Nah, pada lidah, ada unsur saraf yang akan melaporkan ke otak. Dengan demikian, bila bayi melihat makanan serupa, ia sudah tahu rasanya. Ini akan disimpan dalam memori otaknya,” tuturnya.

Begitu pula jika bayi diberi makanan lain, akan juga disimpan dalam memori otaknya. Karena itulah, tukas Dadang, semakin beragam makanan yang diberikan kepada bayi akan semakin baik, sehingga di otaknya akan banyak menyimpan memori. Dengan begitu, bila bayi diberi makanan yang berbeda, dia akan cepat menerima.

“Tapi kalau hanya diberi makanan yang itu-itu saja, memorinya pun hanya itu saja. Akibatnya, ketika bayi sudah agak besar dan diberi makanan yang berbeda, ia akan merasa asing karena di CPU-nya atau memorinya tak ada makanan tersebut.”

BUAH-BUAHAN

Selanjutnya, agar bayi memiliki kebiasaan makan yang baik, Dadang menyarankan agar ibu membuat jadwal makan bayi. Pada umumnya jadwal pemberian makan dibagi 2, yaitu jadwal pemberian makanan utama dan jadwal makanan selingan. “Biasanya makanan selingan berupa buah-buahan yang sudah bisa diperkenalkan pada bayi sejak usia 3 bulan.” Adapun buah yang disarankan ialah yang berserat sedikit seperti pepaya dan pisang.

“Kedua jenis buah ini bisa dimakan langsung oleh bayi karena lunak,” kata Dadang. Namun untuk buah lainnya, seperti jeruk, melon, dan tomat biasanya harus dibikin jus dulu. Sementara buah yang dilarang untuk bayi adalah yang memiliki sifat merangsang seperti durian dan nangka. Buah-buahan ini dapat meningkatkan asam lambung sehingga tak baik bagi bayi.

SAYURAN DAN IKAN

Mulai usia 7 hingga 12 bulan, bayi sudah harus diberikan makanan lunak. Misalnya, bubur ayam beserta lauk-pauk seperti sayuran. “Berbeda dengan buah-buahan yang bisa diberikan pada usia 3 bulan, maka sayuran harus ditunda hingga usia 5 atau 6 bulan, karena sayuran mengandung zat nitrat yang dapat mengganggu penyerapan mineral dari makanan lain pada bayi,” terang Dadang.

Untuk perkenalan, Dadang menyarankan agar bayi diberi sayuran yang tak memiliki serat tinggi seperti wortel. Setelah itu, segala jenis sayuran boleh diberikan, namun tetap harus beragam dan bervariasi. Ikan juga sudah boleh diberikan. “Pada umumnya, semua ikan baik karena mengandung protein yang tinggi,” ujar Dadang.

Hanya masalahnya, ikan memiliki duri sehingga cara penyajiannya harus hati-hati. “Ikan laut dalam memiliki kelebihan ketimbang ikan lainnya karena mengandung asam lemak esensial.” Contohnya, tuna, cengkalang, dan sarden.

AYAM, TELUR, DAN HATI

Untuk ayam, Dadang menganjurkan agar bayi sebaiknya diberi ayam kampung, bukan ayam negeri. Kendati dari sudut gizinya sama saja, namun makanan ayam negeri dan kampung berbeda.

“Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya,” terangnya. Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. “Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja,” lanjut Dadang.

Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. “Tapi jangan terlalu sering, ya,” pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja. Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi.

Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. “Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi,” tutur Dadang. Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.

“Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi,” terang Dadang. Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.

Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. “Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja.” Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur. Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, lo, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. “Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam.” Tapi jangan lupa, lo, Bu, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.

MAKANAN MANIS

Bagaimana dengan makanan manis? Menurut Dadang, sebaiknya bayi tak mengkonsumsi makanan manis. Selain tak baik untuk pertumbuhan gigi, “makanan manis seperti cokelat, es krim, dan kue-kue kecil, juga memiliki gizi yang kurang seimbang.” Cokelat, misalnya, yang tinggi adalah kadar lemak dan gulanya, sedangkan proteinnya kurang.

“Begitu juga es krim, kadar lemak dan gulanya sangat tinggi.” Jadi, Bu-Pak, sebaiknya si kecil jangan dulu diperkenalkan pada makanan yang manis-manis. Apalagi, sampai usia setahun, memori akan makanan terus menempel padanya. Bisa-bisa nantinya ia hanya suka pada makanan yang manis-manis saja. Lain halnya dengan madu.

“Madu merupakan sumber karbohidrat yang sederhana bagi bayi karena mudah diserap dan dicerna,” terang Dadang. Seperti diketahui, karbohidrat terdiri dari dua jenis; yang kompleks seperti nasi dan yang sederhana seperti madu. Mengenai manfaat madu yang katanya bisa menurunkan panas saat demam, menurut Dadang, dalam penelitian di dunia Barat belum pernah dibahas. “Tapi pada kenyataannya memang banyak orang yang mengakui hal itu.”

BUMBU DAPUR

Untuk bumbu dapur seperti garam, menurut Dadang, boleh diberikan. “Bayi juga membutuhkan garam, lo, karena garam mengandung natrium yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan intra sel dan ekstra sel di tubuh bayi. Dengan demikian, bila bayi kekurangan garam, ia bisa menjadi lemah dan lesu,” terangnya.

Hanya saja, lanjut Dadang, kebutuhan bayi akan garam masih sedikit. Soalnya, ginjal bayi belum bisa menangani garam dalam jumlah cukup besar. Selain itu, bila bayi sudah diperkenalkan garam sejak dini, bisa-bisa setelah dewasa ia dapat menjurus pada tekanan darah tinggi. Bumbu dapur lain yang bersifat merangsang seperti lada dan bawang-bawangan juga sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan asam lambung bayi.

Jadi kalau bayi sudah diperkenalkan pada bumbu-bumbu tersebut, bisa-bisa setelah besar nanti ia akan menjadi penderita maag. “Terlebih lagi vetsin,” tukas Dadang seraya melanjutkan, “untuk orang dewasa saja vetsin tak baik, apalagi untuk bayi.” Soalnya, vetsin bisa mengakibatkan hipertensi. Nah, Bu-Pak, sudah lebih paham, kan?

SI KECIL BOLEH, KOK, MAKAN KEJU

Tapi tunggu sampai si kecil berusia 7 bulan, ya, Bu-Pak. Selain itu, pemberiannya juga jangan terlalu sering. Soalnya, keju mengandung lemak sangat tinggi. Nanti si kecil bisa merasa mual. Alangkah baiknya bila dipilih keju yang kadar lemaknya tak terlalu tinggi

MAKANAN UNTUK BAYI YANG SEDANG SAKIT

Pada bayi yang jatuh sakit, terang Dadang , ada semacam perubahan metabolisme sehingga bayi membutuhkan zat gizi yang lebih banyak lagi ketimbang waktu sehat. Pada bayi yang panas, misalnya, perbedaan suhu yang hanya satu derajat saja bisa meningkatkan energi yang berbeda. “Misalnya, suhu bayi normal adalah 36 dan suhu bayi yang tengah sakit adalah 37 derajat, nah, kebutuhan energinya sudah berbeda 13 persen,” tuturnya.

Yang jelas, pada bayi sakit, makanan yang diberikan haruslah yang mudah dicerna dan diserap. Berarti bentuknya kecil dan secara fisik harus cair. “Juga, makanannya jangan yang komplek, yaitu yang banyak seratnya, karena membuat usus bekerja keras.” Kemudian, porsinya kecil saja. Tapi karena bayi kebutuhannya meningkat, maka frekuensi pemberian makannya harus lebih sering. Contoh makanan untuk bayi sakit adalah sup ayam, yang tentunya sudah dilumatkan dulu sebelum diberikan pada si bayi.

sumber Rosa – Ibukitakartini.com

BEBERAPA MENU UNTUK 1 TAHUN
Mie ayamBahan :
Mie telor basah cap AA – rebus sampai empuk
Ayam kampung cincang
Kaki ayam kampung – rebus jadi kaldu untuk kuah
Minyak wijen
Kecap manis
kecap ikan
Bawang putih – haluskan
Lada, garamCara :
Tumis bawang putih sampai wangi, masukkan ayam cincang, masak sampai matang dan ayam tidak menggumpal. Bumbui kecap manis, kecap ikan, minyak wijen, lada, garam.
Tumis bawang putih, masukkan kedalam kaldu kaki ayam. Bumbui lada, garam, minyak wijen, kecap ikan.
Mie telor selesai direbus ditiriskan, masukkan ke dalam mangkok yang sudah diberi kecap ikan dan minyak wijen. Aduk rata.Semur bola ati ayamBahan
Ayam kampung cincang
Ati ayam kampung – cincang halus
Bawang putih – haluskan
Maizena
Kecap manis
Lada, garam, pala

Cara :
Campur ayam kampung, ati ayam dan sedikit maizena.
Bumbui lada & garam.
Bentuk bola-bola dengan 2 buah sendok.
Tumis bawang putih halus sampai harum, tambahkan air.
Masukkan bola-bola ati ayam ke dalam tumisan bawang putih tersebut.
Bumbui dengan kecap manis, lada, garam, pala.
Masak sampai matang.

Kwetiau siram daging

Bahan :
Kwetiau – rebus sampai empuk
Daging cincang
Baby caysim – potong2, kukus sebentar
Wortel – potong bulat, kukus sampai empuk
Maizena/ sagu– larutkan dengan air dingin
Bawang putih – haluskan
Jahe – haluskan
Saus tiram
Minyak wijen
Angciu
Lada – garam
Daun bawang kecil – iris halus

Cara :
Tumis bawang putih & jahe halus, masukkan daging cincang, aduk rata, masak sampai matang.
Kecilkan api, masukkan wortel & baby caysim kukus.
Tambahkan air sedikit, saus tiram, minyak wijen, angciu, lada, garam.
Tuangi larutan maizena untuk mengentalkan.
Masak sampai mendidih. Tuang di atas kwetiau rebus.

Schotel mie

Bahan
Mie telor kering – rebus sampai empuk
Wortel – potong kecil2, kukus
Buncis – potong kecil2, kukus
Daging cincang
Bawang putih – haluskan
Santan encer sedikit
Lada, garam

Cara :
Tumis bawang putih sampai harum, masukkan daging cincang. Masak sampai matang.
Masukkan wortel & buncis kukus. Aduk rata
Tambahkan santan.
Bumbui lada & garam.
Masukkan ke dalam pinggan tahan panas.
Panggang sebentar sampai agak kering.

Ifumie

Bahan :
Mie khusus untuk ifumie
Bakso ikan – iris halus
Udang – potong kecil2
Cumi – potong kecil2
Ayam kampung cincang
Wortel – iris menyerong
Baby caysim – potong2
Daun bawang kecil – potong 1 cm
Bawang putih – keprek
Telur – kocok lepas
Minyak wijen
Saus tiram
Maizena – larutkan dengan sedikit air dingin
Angciu
Lada
Kecap ikan

Cara :

Bumbui udang dan cumi dengan lada & garam
Beri sedikit maizena dan minyak wijen.
Tumis bawang putih sampai harum
Masukkan ayam cincang, udang, cumi dan bakso ikan. Masak sampai matang.
Masukkan wortel, masak hingga wortel matang.
Masukkan caysim & daun bawang
Tambahkan air sedikit.
Beri saus tiram, minyak wijen, angciu, lada, kecap ikan.
Masukkan kocokan telur.
Kentalkan dengan larutan maizena, masak hingga matang.
Angkat dari api dan tuang di atas mie.
Sosis ikan

Bahan :

Fillet ikan kakap – haluskan
Wortel – kupas, buang tengahnya, potong korek api
Buncis
Santan
Bawang putih – haluskan
Lada, garam
Telur – kocok, buat dadar tipis

Cara :

Campur fillet kakap halus dengan bawang putih halus dan santan. Bumbui dengan lada & garam.
Oleskan adonan ikan pada telur dadar.
Susun wortel dan buncis di tengah telus dan gulung menjadi sosis.
Kukus hingga matang.
Sup tahu ikan

Bahan
Tahu jepang – hancurkan dgn garpu
Fillet ikan kakap – kukus dgn jahe, daun bwg, angciu
Kaki ayam kampung – rebus jadi kaldu
Bawang putih – haluskan, tumis dengan minyak sedikit
Jahe – potong, tumis bersama bawang putih
Daun bawang kecil – iris halus
Telur – kocok lepas
Kecap ikan
Minyak wijen
Angciu
Saus tiram
Maizena / sagu – campur air dingin
Lada,garam

Cara :

Hancurkan ikan kukus dengan garpu.
Panaskan kaldu, masukkan ikan dan tahu.
Tambahkan tumisan bawang putih halus.
Bumbui dengan kecap ikan, minyak wijen dan saus tiram.
Tuangi telur sedikit demi sedikit sambil diaduk.
Kentalkan dengan maizena / sagu.
Terakhir masukkan irisan daun bawang kecil
Udang gulung

Bahan :
Udang cincang
Wortel – potong korek api
Buncis – potong 5 cm
Telur – kocok lepas, tambah air  sedikit, buat dadar tipis
Bawang putih – haluskan
Lada, garam

Cara :

Campur udang cincang dengan bawang putih halus.
Bumbui lada & garam.
Oleskan adonan udang di atas telur dadar.
Beri potongan wortel & buncis.
Gulung dan ikat supaya tidak lepas.
Kukus hingga matang.
Potong-potong.
Bisa langsung dimakan atau digoreng dahulu.

Bunda Aziza (http://www.parenting.co.id/)

ANEKA SUP UTK BAYI UMUR 8-12 bulan
1 TH KEATAS TINGGAL KASIH SEDIKIT GARAM DAN MERICA BUBUK(sedep deh)

Sop jagung & tofu jepang

Bahan :
Jagung manis, Parut kasar
Daging giling
Tofu jepang potong kotak2 kecil
Wortel, iris kotak kecil atau parut kasar
Bayam, iris kecil
Daun seledri dan daun bawang
margarin? butter utk menggoreng
Bawang bombay cincang halus
Minyak untuk menumis
Air Kaldu(buatan sendiri)

Cara membuat :
Masukkan Daging giling ke dalam kaldu, rebus sampai lunak
Tambahkan wortel rebus sampai empuk, kemudian masukkan Jagung dan Tofu
tambahkan daun seledri dan daun bawang.
Panaskan margarin/unsalted butter, tumis bawang bombay sampai layu dan harum, masukkan ke dalam sop.
Pisahkan sop yang mau dimakan,panaskan dan tambahkan bayam.Rebus sampai mendidih dan angkat

NOTE : Ingat bayam jangan dipanaskan berulang..satu kali masak langsung dimakan,sisanya langsung dibuang.

Sop ikan salmon

Bahan :

Salmon fillet iris kecil, beri jeruk nipis dan jahe sedikit.diamkan sebentar.
Tahu jepang potong kotak kecil
Brokoli ambil kuntumnya, potong kecil
Daun seledri,ambil daunnya iris halus
Bawang Bombay,cincang halus
Air Kaldu buatan sendiri
Garam dan gula( sedikit aja )
Merica ( 1thn keatas )

Cara Membuat :
Masukkan Salmon dan brokoli ke dalam air kaldu,rebus sampai empuk. Tambahkan Tahu jepang dan daun seledri.
Tumis bawang bombay sampai layu dan harum, masukkan ke dalam sop
Variasi sop ikan : Dapat juga menggunakan Ikan Kakap merah fillet atau ikan tuna. ______________

Sop Salmon Labu Kuning

Bahan :
Daging ikan salmon, potong kecil2
Labu kuning, parut halus.
Kacang polong ( atau brokoli, kembang kol )
1 butir kuning telur ayam kampung ( 1thn keatas )
Bawang Bombay sedikit, cincang halus
Mentega 1sdm untuk menumis
Garam dan gula sedikit
Merica ( 1thn keatas )
Air Kaldu

Cara Membuat :

Didihkan air kaldu, Masukkan labu kuning dan ikan salmon, rebus sampai matang
Masukkan kacang polong / brokoli / kembang kol
Tumis bawang bombay dengan mentega hingga layu dan harum, masukan ke dalam sop
Masukkan kuning telur sedikit demi sedikit sambil terus diaduk
Bubuhi garam,gula dan lada.
Siap disajikan

Note : ikan dapat diganti dengan daging giling atau ayam giling.

__________________

Sop Makaroni Ayam

Bahan :

Makaroni
Daging ayam giling
Wortel, iris kotak kecil
Tomat, Iris Halus buang biji
Keju Parut
Garam, gula sedikit
Merica, pala sedikit ( 1thn keatas )
Daun bawang, iris halus
Bawang Bombay, cincang halus
Air Kaldu

Cara Membuat :
Rebus makaroni bersama air kaldu sampai makaroni menjadi lunak, masukkan daging masak sampai empuk.
Masukkan wortel dan tomat, Beri keju parut, garam,gula,merica dan bubuk pala. kecilkan api masukkan irisan daun bawang.
Tumis bawang bombay sampai layu dan harum. Masukkan ke dalam sop.

Catatan : Bisa juga ditambahkan susu kurang lebih 30 ml.

Untuk Variasi atau untuk anak yang alergi dengan tomat dapat diganti dengan brokoli atau buncis.

Sop Kacang Merah

Bahan :
Kacang merah segar
Daging giling
Jagung manis, parut kasar
Wortel, potong kotak kecil
Tahu / Tofu jepang
Kentang, potong kotak kecil
Daun seledri sedikit, iris halus
Garam, gula sedikit
Air Putih
Air kaldu buatan sendiri

Cara membuat :

Rebus Kacang merah dengan Air biasa sampai lunak, angkat tiriskan. Blender halus.
Rebus daging giling dengan menggunakan air kaldu sampai empuk. Masukkan wortel dan kentang, masak sampai empuk, tambahkan tahu dan kacang merah yang sudah diblender dan jagung.Masak sebentar beri garam dan gula. kecilkan api tambahkan daun seledri. Angkat dan sajikan.

___

SUP BAYAM ISI DAGING

Bahan :
1 sdt margarin
1 sdt tepung terigu
50 gr bayam, rebus, blender dengan 10 cc kaldu buatan sendiri
50 gr daging sapi, rebus, potong dadu kecil
10 gr keju parut
sedikit garam
sedikit pala bubuk(diatas 1th)

Cara membuat :
1. Panaskan margarin dalam wajan hingga cair, beri tepung terigu,
aduk-aduk sambil dituangi cairan bayam sedikit demi sedikit.
2. Masukan daging, masak hingga daging matang. Beri parutan keju, garam dan pala, aduk rata, angkat.
3. Tempatkan dalam wadah, berikan pada bayi selagi hangat. ___

Sup Ragout Isi Sayuran

Bahan :
1 sdt margarin
1 sdt tepung terigu
100 cc kaldu
50 cc susu(ASI atau sufor)
50 gr wortel Rebus, iris dadu kecil
25 gr daging ayam
10 gr keju parut

Cara Membuat :
1. Cairkan margarin dalam wajan, masukan tepung terigu, aduk.
2. Sambil terus diaduk tuangi kaldu sedikit demi sedikit. Masukan susu.
3. Masukan wortel, daging ayam dan keju parut. Bubuhi garam. Aduk rata. Angkat.
4. Tempatkan dalam wadah, berikan pada bayi selagi hangat.

Sop Tahu Tempe

Bahan :
Dada ayam kampung,potong halus
Tempe, Potong kotak kecil
Tahu, Potong kotak kecil
Buncis, iris tipis
Tomat 1bh, Rebus buang biji.Parut halus

Wortel, potong kotak kecil
Bayam merah, iris halus
Air Kaldu
Garam,gula sedikit
Merica sedikit ( 1thn keatas )
Bawang bombay cincang halus

Cara Membuat :

Rebus Ayam,Wortel dan buncis dalam air kaldu sampai empuk, Tambahkan Tahu dan tempe, masukkan Tomat parut, Aduk.
Beri garam,gula dan merica.
Tumis bawang bombay sampai layu dan harum,tambahkan kedalam sop
Pisahkan Sop yang akan dimakan, panaskan tambahkan bayam. Tunggu airnya mendidih.Angkat dan sajikan.

Catatan : Ingat bayam hanya untuk sekali makan, bayam yg sudah matang tdk boleh dipanaskan lagi.

sumber ,berbagai majalah anak ,seperti AyahBunda,share dari milis lain juga seperti forum Annakku dan parent Guide. Dipublikasi ulang oleh kasihdandamainyaislam melalui http://www.infobunda.com/

MENGQODHO’ PUASA RAMADHAN DULU ATAU PUASA SUNNAH (SYAWAL) ?

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Permasalahan ini selalu menjadi dilema selepas Ramadhan. Apalagi untuk para wanita yang mengalami haidh saat Ramadhan sehingga mesti mengqodho’ puasa. Di bulan Syawal pun kemungkinan ia bisa mendapati haidh kembali. Manakah yang mesti didahulukan dalam hal ini, puasa sunnah ataukah qodho’ (utang) puasa? Lantas bagaimana jika hanya sempat menjalankan puasa Syawal selama empat hari dan tidak sempurna karena mesti mengqodho’ puasa lebih dulu? Simak pembahasan menarik berikut.

Perselisihan Ulama[1]

Para fuqoha berselisih pendapat dalam hukum melakukan puasa sunnah sebelum melunasi qodho’ puasa Ramadhan.

Para ulama Hanafiyah membolehkan melakukan puasa sunnah sebelum qodho’ puasa Ramadhan. Mereka sama sekali tidak mengatakannya makruh. Alasan mereka, qodho’ puasa tidak mesti dilakukan sesegera mungkin.

Ibnu ‘Abdin mengatakan, “Seandainya wajib qodho’ puasa dilakukan sesegera mungkin (tanpa boleh menunda-nunda), tentu akan makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa Ramadhan. Qodho’ puasa bisa saja diakhirkan selama masih lapang waktunya.”

Para ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat tentang bolehnya namun disertai makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa. Karena jika melakukan seperti ini berarti seseorang mengakhirkan yang wajib (demi mengerjakan yang sunnah).

Ad Dasuqi berkata, “Dimakruhkan jika seseorang mendahulukan puasa sunnah padahal masih memiliki tanggungan puasa wajib seperti puasa nadzar, qodho’ puasa, dan puasa kafaroh.  Dikatakan makruh baik puasa sunnah yang dilakukan dari puasa wajib adalah puasa yang tidak begitu dianjurkan atau puasa sunnah tersebut adalah puasa yang amat ditekankan seperti puasa ‘Asyura’, puasa pada 9 Dzulhijjah. Demikian pendapat yang lebih kuat.”

Para ulama Hanabilah menyatakan diharamkan mendahulukan puasa sunnah sebelum mengqodho’ puasa Ramadhan. Mereka katakan bahwa tidak sah jika seseorang melakukan puasa sunnah padahal masih memiliki utang puasa Ramadhan meskipun waktu untuk mengqodho’ puasa tadi masih lapang. Sudah sepatutnya seseorang mendahulukan yang wajib, yaitu dengan mendahulukan qodho’ puasa. Jika seseorang memiliki kewajiban puasa nadzar, ia tetap melakukannya setelah menunaikan kewajiban puasa Ramadhan (qodho’ puasa Ramadhan).  Dalil dari mereka adalah hadits Abu Hurairah,

من صام تطوّعاً وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنّه لا يتقبّل منه حتّى يصومه

Barangsiapa yang melakukan puasa sunnah namun masih memiliki utang puasa Ramadhan,  maka puasa sunnah tersebut tidak akan diterima sampai ia menunaikan yang wajib.” Catatan penting, hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).[2] Para ulama Hanabilah juga mengqiyaskan (menganalogikan) dengan haji. Jika seseorang menghajikan orang lain (padahal ia sendiri belum berhaji) atau ia melakukan haji yang sunnah sebelum haji yang wajib, maka seperti ini tidak dibolehkan.

Merujuk pada Dalil

Dalil yang menunjukkan bahwa terlarang mendahulukan puasa sunnah dari puasa wajib adalah hadits yang dho’if sebagaimana diterangkan di atas.

Dalam mengqodho’ puasa Ramadhan, waktunya amat longgar, yaitu sampai Ramadhan berikutnya. Allah Ta’ala sendiri memutlakkan qodho’ puasa dan tidak memerintahkan sesegera mungkin sebagaimana dalam firman-Nya,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

Begitu pula dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3]

Sebagaimana pelajaran dari hadits ‘Aisyah yang di mana beliau baru mengqodho’ puasanya saat di bulan Sya’ban, dari hadits tersebut Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh mengakhirkan qodho’ puasa lewat dari Ramadhan berikutnya.”[4]

Pendapat Terkuat

Pendapat terkuat dalam masalah ini adalah bolehnya melakukan puasa sunnah sebelum menunaikan qodho’ puasa selama waktu mengqodho’ puasa masih longgar. Jika waktunya begitu longgar untuk mengqodho’ puasa, maka sah-sah saja melakukan puasa sunnah kala itu. Waktu qodho’ puasa amatlah lapang, yaitu sampai Ramadhan berikutnya. Sebagaimana seseorang boleh saja melakukan shalat sunnah di saat shalat Zhuhur waktunya masih lapang. Dari sini sah saja, jika seseorang masih utang puasa, lantas ia lakukan puasa Senin Kamis.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Inilah pendapat terkuat dan lebih tepat (yaitu boleh melakukan puasa sunnah sebelum qodho’ puasa selama waktunya masih lapang, pen).  Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qodho’ puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bersafar (lantas ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat ini dikatakan untuk mengqodho’ puasanya di hari lainnya dan tidak disyaratkan oleh Allah Ta’ala untuk berturut-turut. Seandainya disyaratkan berturut-turut, maka tentu qodho’ tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa ada kelapangan.”[5]

Masalah Puasa Syawal

Ada yang sedikit berbeda dengan puasa Syawal. Untuk meraih pahala puasa setahun penuh disyaratkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[6]

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mempunyai qodho’ puasa di bulan Ramadhan, lalu ia malah mendahulukan menunaikan puasa sunnah enam hari Syawal, maka ia tidak memperoleh pahala puasa setahun penuh. Karena keutamaan puasa Syawal (mendapat pahala puasa setahun penuh) diperoleh jika seseorang mengerjakan puasa Ramadhan diikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Dalam kondisi tadi, ia tidak memperoleh pahala tersebut karena puasa Ramadhannya belum sempurna.”[7]

Ibnu Rajab rahimahullah kembali menjelaskan, “Barangsiapa mendahulukan qodho’ puasa, setelah itu ia melakukan puasa enam hari Syawal setelah ia menunaikan qodho’, maka itu lebih baik. Dalam kondisi seperti ini berarti ia telah melakukan puasa Ramadhan dengan sempurna, lalu ia lakukan puasa enam hari Syawal. Jika ia malah mendahulukan puasa Syawal dari qodho’ puasa, ia tidak memperoleh keutamaan puasa Syawal. Karena keutamaan puasa enam hari Syawal diperoleh jika puasa Ramadhannya dilakukan sempurna.”[8]

Sebelumnya Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan, “Bagi ulama yang menyatakan bolehnya mendahulukan puasa sunnah dari qodho’ puasa, maka jika ia mendahulukan puasa sunnah Syawal, ia tidak memperoleh keutamaannya (pahala puasa setahun penuh). Yang bisa mendapatkannya adalah orang yang lebih dulu menyempurnakan puasa Ramadhan lalu melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.”[9]

Kesimpulan, menurut pendapat yang lebih kuat –sebagaimana dijelaskan di atas-, jika ia mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal dari qodho’ puasa, maka puasanya tetap sah. Hanya saja pahala puasa setahun penuh yang tidak ia peroleh karena puasa Ramadhannya belum sempurna. Jadi lebih baik dahulukan qodho’ puasa daripada puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Kasus Wanita Haidh

Bagaimana kasus pada wanita muslimah yang sudah barang tentu mengalami haidh setiap bulannya padahal masih punya utang puasa? Bisa jadi mereka hanya sempat melakukan puasa Syawal tiga atau empat hari karena sebelumnya harus menjalankan qodho’ puasa.

Ada penjelasan yang amat bagus dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, beliau menjelaskan, “Tidak disyari’atkan mengqodho’ puasa Syawal setelah Syawal[10] baik meninggalkannya karena udzur maupun tidak. Karena puasa Syawal hanyalah puasa sunnah yang sudha terluput. Kami katakan bagi yang sudah melakukan puasa Syawal selama empat hari dan belum sempurna enam hari karena ada alasan syar’i, ‘Ketahuilah bahwa puasa Syawal adalah ibadah yang sunnah, tidak wajib. Engkau akan mendapati pahala puasa syawal empat hari yang telah engkau kerjakan. Dan diharapkan engkau akan memperoleh pahala yang sempurna jika engkau meninggalkan puasa Syawal tadi karena ada alasan yang dibenarkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كَتَبَ اللهُ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً

Jika seseorang sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya pahala seperti saat ia mukim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya). Jadi, engkau tidak memiliki kewajiban qodho’ sama sekali (setelah Syawal).”[11]

Dari penjelasan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berarti seorang wanita yang masih punya utang puasa tidak perlu khawatir jika ia luput dari puasa Syawal. Jika memang ia luput karena ada udzur, maka lakukanlah semampunya walaupun sehari atau dua hari. Jika kondisinya memang karena ada udzur untuk menunaikan qodho’ puasa, moga-moga ia dicatat pahala yang sempurna karena puasa Syawal yang luput dari dirinya. Jadi tetaplah dahulukan qodho’ puasa, itulah yang lebih utama.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id dipublikasi ulang oleh http://kasihdandamainyaislam.wordpress.com


[1]Lihat pembahasan ini di Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/9997-9998, index “Shoum At Tathowwu’”, point 23.

[2] HR. Ahmad 3/352. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dan dinilai dho’if, dan di dalamnya ada perowi yang matruk (Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah,  Darul Fikr, 3/86). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah wal Mawdhu’ah (2/235) mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Begitu pula hadits ini didho’ifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad (3/352).

[3] HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146.

[4] Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 4/191.

[5] Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 6/448. Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 23429 pada link http://islamqa.com/ar/ref/23429.

[6] HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori.

[7] Lathoif Al Ma’arif, Ahmad bin Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 392.

[8] Idem.

[9] Idem.

[10] Sebagian ulama  (seperti Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah) menganjurkan mengqodho’ puasa Syawal di bulan Dzulqo’dah. Al Bahuti, penulis Kasyaful Qona’ (kitab fiqh Hambali) berkata, “Keutamaan puasa enam hari Syawal tidaklah diperoleh jika puasa tersebut dilakukan selain di bulan Syawal. Demikianlah yang dipahami dari tekstual hadits.” (Kasyaful Qona’ ‘an Matn Al Iqna’, Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, Mawqi’ Al Islam, 6/132)

[11] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/389,395. Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 23429 pada link http://islamqa.com/ar/ref/23429.

Islamic Hijri Calendar

KESAMAAN SYI’AH DENGAN YAHUDI

Sekilas Tentang Syi’ah..
Agar pembaca mengetahui, bahwa sang deklarator Agama Syi’ah adalah Abdullah bin Saba’; seorang gembong Yahudi yang berpura-pura masuk Islam di zaman kekhalifahan Utsman Bin Affan. Dengan kedok kecintaan terhadap Ali, ia mulai menebarkan jentik-jentik kesesatan di tengah kaum muslimin waktu itu. Keberadaan Abdullah bin Saba’ sebagai seorang Yahudi, diakui sendiri oleh petinggi-petinggi Syi’ah dalam buku-buku mereka seperti “Firaq Asy-Syi’ah” [hal. 43-44. Cet Al-Haidariyah, Najef 1379 H], begitu pula dalam kitab mereka yang tersohor “Rijal Al-Kasysyi” [hal. 101. Mu’assasah Al-A’lami. Karbala Iraq].

Syi’ah dan Yahudi adalah “dua sejoli” yang sangat lengket dan mesra. Berikut adalah beberapa kemiripan diantara mereka berdua :

1. Yahudi telah mengubah-ubah Taurat, begitu pula Syi’ah; mereka mempunyai Al-Qur’an hasil kerajinan tangan mereka sendiri yakni “Mushaf Fathimah” yang tebalnya 3 kali Al-Qur’an kaum Muslimin. Mereka menganggap ayat Al-Qur’an yang diturunkan berjumlah 17.000 ayat, dan menuduh Sahabat menghapus sepuluh ribu lebih ayat.

2. Yahudi menuduh Maryam yang suci berzina [QS. Maryam : 28], Syi’ah melakukan hal yang sama terhadap istri Rasulullah Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diungkapkan Al-Qummi (pembesar Syi’ah) dalam “Tafsir Al-Qummi (II 34)”

3. Yahudi mengatakan, “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja“. [QS. Al-Baqarah : 80] Syi’ah lebih dahsyat lagi dengan mengatakan, “Api neraka telah diharamkan membakar setiap orang Syi’ah” sebagaimana tercantum dalam kitab mereka yang dianggap suci “Fashl Khithab (hal.157)”

4. Yahudi meyakini bahwa, Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak tahu, begitu juga dengan Syi’ah

5. Yahudi berkeyakinan bahwa ucapan “Amin” dalam shalat adalah membatalkan shalat. Syi’ah juga beri’tiqod yang sama.

6. Yahudi berkata, “Allah mewajibkan kita lima puluh shalat” Begitu pula dengan Syi’ah.

7. Yahudi keluar dari shalat tanpa salam, cukup dengan mengangkat tangan dan memukulkan pada lutut. Syi’ah juga mengamalkan hal yang sama.

8. Yahudi miring sedikit dari kiblat, begitu pula dengan Syi’ah.

9. Yahudi tidak menetapkan adanya jihad hingga Allah mengutus Dajjal.Syi’ah Rafidhah mengatakan, “Tidak ada jihad hingga Allah mengutus Imam ghaib Syi’ah yang ditunggu-tunggu”

10. Yahudi menghalalkan darah setiap muslim. Demikian pula Syi’ah, mereka menghalalkan darah Ahlussunnah.[Lihat kitab Badzl Al-majhud fi Itsbat musyabahah Ar-Rafidhah lil Yahud, oleh Abdullah Al-Jumaily].

Ahmad bin Yunus (wafat 227 H) rahimahullah, salah seorang tokoh ulama Ahlus Sunnah di Kufah telah berkata: “Seandainya; seorang Yahudi menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi (Syi’ah) menyembelih seekor binatang, niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam (namun masih mengaku Islam-red).” [Ash-Sharimul Maslul, hal. 570].

Imam Bukhari rahimahullah berkata : “Bagiku sama saja, apakah aku sholat dibelakang orang yang berfaham Jahmiyyah atau Syi’ah Rafidhah, atau aku sholat dibelakang orang Yahudi atau Nashrani. Dan seorang muslim tidak boleh memberi salam kepada mereka, menjenguk mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi, dan memakan sembelihan mereka.”[Khalqu Af’alil ‘Ibad hal:125, karya Imam Bukhari ]

Dikutip dari http://ustadzkholid.com/ dengan judul asli “Bantahan Tuntas Pengakuan Dusta Seorang Agen MOSSAD [1]“

ALANGKAH INDAHNYA ISLAM

Tema keindahan Islam sangat luas, panjang lebar sulit untuk diringkas dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita ketahui adalah firman Allah.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)

Juga firman-Nya.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima.” (Qs. Ali Imran: 85)

Jadi, agama yang dibawa oleh para nabi dan menjadi sebab Allah mengutus para rasul adalah dienul Islam. Allah mengutus para rasul untuk mengajak agar orang kembali kepada Allah. Para rasul datang untuk memperkenalkan Allah. Barang siapa menaati mereka, maka para rasul akan memberikan kabar gembira kepadanya. Adapun orang yang menentangnya, maka para rasul akan menjadi peringatan baginya. Para rasul diperintahkan untuk menegakkan agama di dunia ini.

Allah berfirman.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu ‘Tegakkan agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.’ Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 13)

Islam adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang dibawa Nabi merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima agama selainnya. Jadi agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan diridhaiNya.

Allah berfirman.

يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 42)

Sebagian ahli ilmu mengatakan, Sebelumnya aku mengira bahwa orang yang bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan orang yang meridhoi Allah, niscaya Allah akan meridhoinya. Dan barang siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintainya. Setelah aku membaca Kitabullah, aku baru mengetahui bahwa kecintaan Allah mendahului kecintaan hamba pada-Nya dengan dasar ayat,

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Dia mencintai mereka dan mereka mencitai-Nya.” (Qs. Al Maaidah: 54)

Ridha Allah kepada hambaNya mendahului ridha hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,

رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ

“Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoi-Nya.” (Qs. At-Taubah: 100)

Dan aku mengetahui bahwa penerimaan taubat dari Allah, mendahului taubat seorang hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ

“Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs. At-Taubah: 118)

Demikianlah, bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan tidak beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Karena itu, agama yang diterima Allah adalah Islam. Umat Islam harus menjadikannya sebagai kendaraan. Persatuan harus bertumpu pada tauhid dan syahadatain. Islam agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri. Allah menjamin penjagaan terhadapnya.

Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)

Sedangkan agama selainnya, jaminan ada di tangan tokoh-tokoh agamanya.

Allah berfirman.

بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ

“Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab.” (Qs. Al Maaidah: 44)

Kalau mereka tidak menjaganya, maka akan berubah. Ia bagaikan sesuatu yang mati. Harus digotong. Tidak dapat menyebar, kecuali dengan dorongan sekian banyak materi. Sedangkan Islam pasti tetap akan terjaga. Karena itu, masa depan ada di tangan Islam. Islam pasti menyebar ke seantero dunia. Allah telah menjelaskannya dalam Al Quran, demikian juga Nabi dalam Sunnahnya. Kesempatan kali ini cukup sempit, tidak memungkinkan untuk menyebutkan seluruh dalil. Tapi saya ingin mengutip sebuah ayat.

مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاء ثُمَّ لِيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ

“Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (Qs. Al-Hajj: 15)

Dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr, kami bertanya kepada Nabi, “Kota manakah yang akan pertama kali ditaklukkan? Konstantinopel (di Turki) atau Rumiyyah (Roma)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Konstantinopel-lah yang akan ditaklukkan pertama kali, kemudian disusul Rumiyyah.” Yaitu Roma yang terletak di Italia. Islam pasti akan meluas di seluruh penjuru dunia. Pasalnya, Islam bagaikan pohon besar yang hidup lagi kuat, akarnya menyebar sepanjang sejarah semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam adalah agama (yang sesuai dengan) fitrah. Kalau anda ditanya, bagaimana engkau mengetahui Robb-mu. Jangan engkau jawab, “dengan akalku,” tapi jawablah, “dengan fitrahku.” Oleh karena itu, ketika ada seorang atheis yang mendatangi Abu Hanifah dan meminta dalil bahwa Allah adalah Haq (benar), maka beliau menjawab dengan dalil fitrah. “Apakah engkau pernah naik kapal dan ombak mempermainkan kapalmu?” Ia menjawab, “Pernah.” (Abu Hanifah bertanya lagi), “Apakah engkau merasa akan tenggelam?” Jawabnya, “Ya.” “Apakah engkau meyakini ada kekuatan yang akan menyelamatkanmu?” “Ya,” jawabnya. “Itulah fitrah yang telah diciptakan dalam dirimu. Kekuatan ada dalam dirimu itulah kekuatan fitrah Allah. Manusia mengenal Allah dengan fitrahnya. Fitrah ini terkandung dalam dada setiap insan. Dasarnya hadits Muttafaq ‘Alaih. Nabi bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”

Akal itu sendiri bisa mengetahui bahwa Allah adalah Al-Haq. Namun ia secara mandiri tidak akan mampu mengetahui apa yang dicintai dan diridhoi Allah. Apakah mungkin akal semata saja dapat mengetahui bahwa Allah mencintai sholat lima waktu, haji, puasa di bulan tertentu? Karena itu, fitrah itu perlu dipupuk dengan gizi yang berasal dari wahyu yang diwahyukan kepada para nabi-Nya.

Sekali lagi, nikmat dan anugerah paling besar yang diterima seorang hamba dari Allah ialah bahwa Allah-lah yang memberikan jaminan untuk menetapkan syariat-Nya. Dialah yang menjelaskan apa yang dicintai dan diridhaiNya. Inilah nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. Bila ada orang yang beranggapan ada kebaikan dengan keluar dari garis ini dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia telah keliru. Sebab kebaikan yang hakiki dalam kehidupan ini maupun kehidupan nanti hanyalah dengan menaati seluruh yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Syariat Islam datang untuk menjaga lima perkara. Allah telah mensyariatkan banyak hal untuk menegaskan penjagaan ini. Islam datang untuk menjaga agama. Karena itu, Allah mengharamkan syirik, baik yang berupa thawaf di kuburan, istighatsah kepada orang yang dikubur serta segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam syirik, dan mengharamkan untuk mengarahkan ibadah, apapun bentuknya, (baik) secara zahir maupun batin kepada selain Allah. Oleh sebab itu, kita harus memahami makna ringkas syahadatain yang kita ucapkan.

Syahadat “Laa Ilaaha Illa Allah”, maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, ibadah hanya milik Allah. Ini bagian dari pesona agama kita. Allah mengharamkan akal, hati dan fitrah untuk melakukan peribadatan dan istijabah (ketaatan mutlak) kepada selain-Nya. Sedangkan makna syahadat “Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, (yakni) tidak ada orang yang berhak diikuti kecuali Muhammad Rasulullah. Kita tidak boleh mengikuti rasio, tradisi atau kelompok jika menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Maka seorang muslim, di samping tidak beribadah kecuali kepada Allah, juga tidak mengikuti ajaran kecuali ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengikuti ra’yu keluarga, ra’yu kelompok, ra’yu jama’ah, ra’yu tradisi dan lain-lain jika menyalahi Al Quran dan Sunnah.

Dakwah Salafiyah yang kita dakwahkan ini adalah dinullah yang suci dan murni, yang diturunkan oleh Allah pada kalbu Nabi. Jadi dalam berdakwah, kita tidak mengajak orang untuk mengikuti kelompok ataupun individu. Tetapi mengajak untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Namun, memang telah timbul dakhon (kekeruhan) dan tumbuh bid’ah. Sehingga kita harus menguasai ilmu syar’i. Kita beramal (dengan) meneladani ungkapan Imam Malik, dan ini, juga perkataan Imam Syafi’i, “Setiap orang bisa diambil perkataannya atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah.”

Telah saya singgung di atas, agama datang untuk menjaga lima perkara. Penjagaan agama dengan mengharamkan syirik dan segala sesuatu yang menimbulkan akses ke sana. Kemudian penjagaan terhadap badan dengan mengharamkan pembunuhan dan gangguan kepada orang lain. Juga datang untuk memelihara akal dengan mengharamkan khamar, minuman keras, candu dan rokok. Datang untuk menjaga kehormatan dengan mengharamkan zina, percampuran nasab dan ikhtilath (pergaulan bebas). Juga menjaga harta dengan mengharamkan perbuatan tabdzir (pemborosan) dan gaya hidup hedonisme. Penjagaan terhadap kelima perkara ini termasuk bagian dari indahnya agama kita. Syariat telah datang untuk memerintahkan penjagaan terhadap semua ini. Dan masih banyak perkara yang digariskan Islam, namun tidak mungkin kita paparkan sekarang.

Syariat telah merangkum seluruh amal shahih mulai dari syahadat hingga menyingkirkan gangguan dari jalan. Karena itu tolonglah jawab, kalau menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari keimanan, bagaimana mungkin agama memerintahkan untuk mengganggu orang lain, melakukan pembunuhan dan peledakan? Jadi, ini sebenarnya sebuah intervensi pemikiran asing atas agama kita. Semoga Allah memberkahi waktu kita, dan mengaruniakan kepada kita pemahaman terhadap Kitabullah dan Sunnah Nabi dengan lurus. Dan semoga Allah memberi tambahan karunia-Nya kepada kita. Akhirnya, kami ucapkan alhamdulillah Rabbil ‘Alamin.

[Diambil dari situs almanhaj.or.id yang disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal Jakarta]

***

Penulis: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah

Artikel: http://www.muslim.or.id

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saudaraku sekalian yang insya Allah dimuliahkan oleh Allah ta’ala, selamat datang di laman blog kami ini. Kami bukanlah seorang yang dalam ilmunya tentang agama ini, masih banyak belajar, oleh karena itu tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini sebagian besar akan kami kutip dari tulisan ustadz atau sumber lain, yang insya Allah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh para salafussholeh (generasi awal agama ini).

Halaman blog ini digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan pemahaman salafussaleh, nilai-nilai Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam.  Sesungguhnya Islamlah agama yang damai, penuh cinta dan kasih. Allâh mensifati diri-Nya sendiri bahwa Dia Dzat Yang Maha Penyayang. Sifat dengan nama ini, banyak terdapat di dalam al-Qur‘an. Cukuplah bagi kita, sebuah nash yang kita baca berulang kali dalam shalat sehari semalam sebanyak lebih dari sepuluh kali, agar pemahaman terhadap makna kasih dan damainya Islam tertanam dan tertancap dalam hati dan perasaan kita.

Dengan menyebut nama Allâh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allâh, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(Qs. al-Fatihah : 1-3)

Allâh juga mensifati Nabi-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dengan sifat rahim (penyayang) itu sebagaimana Firman-Nya dalam Qs. at-Taubah : 128. Jadi rahmat (kasih-sayang) merupakan sifat Allâh Ta’ala dan sifat Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Allâh dan RasulNya menginginkan agar rahmat ini menjadi nyata di muka bumi. Karena din (agama) ini merupakan din rahmat, sebagaimana Firman Allah ta’ala:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Qs al-Anbiya’/21 : 107).

Banyak lagi dalil lain yang menunjukkan bahwa sesungguhnya ajaran Islam ini, ajaran yang penuh dengan cinta, kedamaian dan kasih sayang. Akan tetapi hal ini seolah-olah saat ini tidak terlihat, bahkan Islam diidentikkan oleh orang-orang tertentu, dengan kekerasan dan hal negatif lainnya. Semoga halaman blog ini, akan memberikan faedah bagi admin sendiri, maupun bagi pembaca yang lain yang ingin mengenal Islam lebih dekat.

Wallahu a’lam bishowab, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.